Tanaman obat sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang tumbuh berselang-seling dari batangnya serta penampakan daun yang berwarna merah keperakan dan mengkilap. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fito-kimia yakni alkoloid, saponin, ta-nin dan flavonoid. Sirih merah sejak dulu telah digunakan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa sebagai obat untuk meyem-buhkan berbagai jenis penyakit dan merupakan bagian dari acara adat. Penggunaan sirih merah dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul. Secara empiris sirih merah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti diabetes mi-litus, hepatitis, batu ginjal, me-nurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, hipertensi, ra-dang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit.

Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik. Sirih merah banyak di-gunakan pada klinik herbal center sebagai ramuan atau terapi bagi penderita yang tidak dapat di-sembuhkan dengan obat kimia. Potensi sirih merah sebagai tanaman obat multi fungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan dalam penggunaannya sebagai bahan obat moderen.

Tanaman obat sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang tumbuh berselang-seling dari batangnya serta penampakan daun yang berwarna merah keperakan dan mengkilap. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fito-kimia yakni alkoloid, saponin, ta-nin dan flavonoid. Sirih merah sejak dulu telah digunakan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa sebagai obat untuk meyem-buhkan berbagai jenis penyakit dan merupakan bagian dari acara adat. Penggunaan sirih merah dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul. Secara empiris sirih merah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti diabetes mi-litus, hepatitis, batu ginjal, me-nurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, hipertensi, ra-dang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit. Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik. Sirih merah banyak di-gunakan pada klinik herbal center sebagai ramuan atau terapi bagi penderita yang tidak dapat di-sembuhkan dengan obat kimia. Potensi sirih merah sebagai tanaman obat multi fungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan dalam penggunaannya sebagai bahan obat moderen.

Tanaman obat sirih mempunyai banyak spesies dan memiliki jenis yang beragam, seperti sirih gading, sirih hijau, sirih hitam, sirih kuning dan sirih merah. Semua jenis tanaman sirih memiliki ciri yang hampir sama yaitu tanamannya merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai yang tumbuh berselang seling dari batangnya.

Tanaman obat Sirih merah (Piper crocatum) adalah salah satu tanaman obat potensial yang sejak lama telah di-ketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, disamping itu juga memiliki nilai-nilai spritual yang tinggi. Sirih merah termasuk dalam satu elemen penting yang harus disediakan dalam setiap upacara adat khususnya di Jogyakarta. Tanaman ini termasuk di dalam famili Pipe-raceae dengan penampakan daun yang berwarna merah keperakkan dan mengkilap saat kena cahaya.

Sirih merah tumbuh merambat di pagar atau pohon. Ciri khas tanaman ini adalah berbatang bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung hati dan bagian ujung daun meruncing. Permukaan daun meng-kilap dan tidak merata. Yang mem-bedakan dengan sirih hijau adalah selain daunnya berwarna merah keperakan, bila daunnya disobek maka akan berlendir serta aromanya lebih wangi.

Ramuan sirih merah telah lama dimanfaatkan oleh lingkungan kra-ton Jogyakarta sebagai tanaman obat yang beguna untuk ngadi saliro. Pada tahun 1990-an sirih merah di-fungsikan sebagai tanaman hias oleh para hobis, karena penampilannya yang menarik. Permukaan daunnya merah keperakan dan mengkilap. Pada tahun-tahun terakhir ini ramai dibicarakan dan dimanfaatkan se-bagai tanaman obat. Dari beberapa pengalaman, diketahui sirih merah memiliki khasiat obat untuk berbagai penyakit. Dengan ramuan sirih merah telah banyak masyarakat yang tersembuhkan dari berbagai pe-nyakit. Oleh karena itu banyak orang yang ingin membudidayakannya.

Aspek budidaya
Sirih merah dapat diperbanyak secara vegetatif dengan penyetekan atau pencangkokan karena tanaman ini tidak berbunga. Penyetekan dapat dilakukan dengan menggunakan sulur dengan panjang 20 - 30 cm. Sulur sebaiknya dipilih yang telah mengeluarkan akar dan mempunyai 2 - 3 daun atau 2 - 3 buku. Untuk mengurangi penguapan, daun di ku-rangi sebagian atau buang seluruh-nya. Sulur diambil dari tanaman yang sehat dan telah berumur lebih dari setahun. Cara perbanyakan dengan dengan setek dapat dilakukan dengan me-nyediakan media tanam berupa pasir, tanah dan kompos dengan perban-dingan 1 : 1 : 1. media tersebut di-masukkan ke dalam polibeg berdi ameter 10 cm yang bagian bawah-nya sudah dilubangin. Setek yang telah dipotong-potong direndam dalam air bersih selama lebih kurang 15 menit. Setek ditanam pada poli-beg yang telah berisi media tanam. Letakkan setek ditempat yang teduh dengan penyinaran matahari lebih kurang 60%.

Perbanyakan dengan cara pen-cangkokan dilakukan dengan me-milih cabang yang cukup tua kira-kira 15 cm dari batang pokoknya, kemudian cabang tersebut diikat atau dibalut ijuk atau sabut kelapa yang dapat menghisap air. Pencangkokan tidak perlu mengupas kulit batang. Cangkok diusahakan selalu basah agar akarnya cepat tumbuh dan ber-kembang. Cangkok dapat dipotong dan ditanaman di polibeg apabila akar yang muncul sudah banyak. Untuk tempat menjalar dibuat ajir dari batang kayu atau bambu. Penyiraman dilakukan satu sampai dua kali dalam sehari tergantung cuaca.

Penanaman di lapangan dilaku-kan pada awal musim hujan dan sebagai tiang panjat dapat digunakan tanaman dadap dan kelor. Jarak tanam dapat digunakan 1 x 1 m, 1 x 1,5 m tergantung kondisi lahan.

Sirih merah dapat beradaptasi de-ngan baik di setiap jenis tanah dan tidak terlalu sulit dalam pemelihara-annya. Selama ini umumnya sirih merah tumbuh tanpa pemupukan. Yang penting selama pertumbuhan-nya di lapangan adalah pengairan yang baik dan cahaya matahari yang diterima sebesar 60 - 75%.

Penangan pasca panen
Tanaman sirih merah siap untuk dipanen minimal berumur 4 bulan, pada saat ini tanaman telah mem-punyai daun 16 - 20 lembar. Ukuran daunnya sudah optimal dan panjang-nya mencapai 15 - 20 cm. Daun yang akan dipanen harus cukup tua, bersih dan warnanya mengkilap karena pada saat itu kadar bahan aktifnya sudah tinggi. Cara pemetikan di-mulai dari daun tanaman bagian bawah menuju atas.

Setelah dipetik, daun disortir dan direndam dalam air untuk mem-bersikan kotoran dan debu yang me-nempel, kemudian dibilas hingga bersih dan ditiriskan. Selanjutnya daun dirajang dengan pisau yang tajam, bersih dan steril, dengan lebar irisan 1 cm. Hasil rajangan dikering anginkan di atas tampah yang telah dialas kertas sampai kadar airnnya di bawah 12%, selama lebih kurang 3 - 4 hari. Rajangan daun yang telah kering dimasukkan ke dalam kan-tong plastik transparan yang kedap air, bersama-sama dimasukan silika gel untuk penyerap air, kemudian di-tutup rapat. Kemasan diberi label tanggal pengemasan selanjutnya di-simpan di tempat kering dan bersih. Dengan penyimpanan yang baik simplisia sirih merah dapat bertahan sampai 1 tahun.

Cara penggunaan simplisia sirih merah yaitu dengan merebus se-banyak 3 - 4 potongan rajangan dengan satu gelas air sampai men-didih. Setelah mendidih, rebusan ter-sebut disaring dan didinginkan. Penggunaan sirih merah dapat dilakukan selain dalam bentuk sim-plisia juga dalam bentuk teh, serbuk, dan ekstrak kapsul.

Pembuatan serbuk sirih merah yaitu diambil dari simplisia yang telah kering kemudian digiling dengan menggunakan grinder men-capai ukuran 40 mesh. Pengemasan dilakukan pada kantong plastik transparan dan diberi label. Sedang-kan ekstrak kapsul dibuat dari hasil serbuk yang di ekstrak dengan menggunakan etanol 70%. Ekstrak kental yang didapat ditambahkan bahan pengisi tepung beras 50% dan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 400C, setelah kering dimasukkan ke dalam kapsul.

Kandungan kimia
Tanaman memproduksi berbagai macam bahan kimia untuk tujuan tertentu, yang disebut dengan me-tabolit sekunder. Metabolit sekunder tanaman merupakan bahan yang tidak esensial untuk kepentingan hidup tanaman tersebut, tetapi mem-punyai fungsi untuk berkompetisi dengan makhluk hidup lainnya. Metabolit sekunder yang diproduksi tanaman bermacam-macam seperti alkaloid, terpenoid, isoprenoid, fla-vonoid, cyanogenic, glucoside, glu-cosinolate dan non protein amino acid. Alkaloid merupakan metabolit sekunder yang paling banyak di produksi tanaman. Alkaloid adalah bahan organik yang mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistim heterosiklik. Nenek moyang kita telah memanfaatkan alkaloid dari tanaman sebagai obat. Sampai saat ini semakin banyak alkaloid yang ditemukan dan diisolasi untuk obat moderen.

Para ahli pengobatan tradisional telah banyak menggunakan tanaman sirih merah oleh karena mempunyai kandungan kimia yang penting untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid. Dari buku ”A review of natural product and plants as potensial antidiabetic” dilaporkan bahwa senyawa alko-koloid dan flavonoid memiliki ak-tivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah.

Kandungan kimia lainnya yang terdapat di daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavi-col, kavibetol, allylprokatekol, kar-vakrol, eugenol, p-cymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, ter-penena, dan fenil propada. Karena banyaknya kandungan zat/senyawa kimia bermanfaat inilah, daun sirih merah memiliki manfaat yang sangat luas sebagai bahan obat. Karvakrol bersifat desinfektan, anti jamur, sehingga bisa digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan keputihan. Eugenol dapat di-gunakan untuk mengurangi rasa sakit, sedangkan tanin dapat diguna-kan untuk mengobati sakit perut.

Sirih merah sebagai tanaman obat multi fungsi
Sejak jaman nenek moyang kita dahulu tanaman sirih merah telah diketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, di samping itu sirih merah memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi. Sirih merah diperguna-kan sebagai salah satu bagian pen-ting yang harus disediakan dalam setiap upacara adat ”ngadi saliro”. Air rebusannya yang mengandung antiseptik digunakan untuk menjaga kesehatan rongga mulut dan me-nyembuhkan penyakit keputihan ser-ta bau tak sedap.

Penelitian terhadap tanaman sirih merah sampai saat ini masih sangat kurang terutama dalam pengembang-an sebagai bahan baku untuk bio-farmaka. Selama ini pemanfaatan sirih merah di masyarakat hanya ber-dasarkan pengalaman yang dilaku-kan secara turun temurun dari orang tua kepada anak atau saudara ter-dekat secara lisan. Di Jawa, ter-utama di Kraton Jogyakarta, tanam-an sirih merah telah dikonsumsi sejak dahulu untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Bedasarkan pengalaman suku Jawa tanaman sirih merah mempunyai manfaat me-nyembukan penyakit ambeien, ke-putihan dan obat kumur, alkaloid di dalam sirih merah inilah yang berfungsi sebagai anti mikroba.

Selain bersifat antiseptik sirih merah juga bisa dipakai mengobati penyakit diabetes, dengan meminum air rebusan sirih merah setiap hari akan menurunkan kadar gula darah sampai pada tingkat yang normal. Kanker merupakan penyakit yang cukup banyak diderita orang dan sangat mematikan, dapat disembuh-kan dengan menggunakan serbuk atau rebusan dari daun sirih merah. Beberapa pengalaman di masyarakat menunjukkan bahwa sirih merah dapat menurunkan penyakit darah tinggi, selain itu juga dapat menyem-buhkan penyakit hepatitis.

Sirih merah dalam bentuk teh herbal bisa mengobati asam urat, kencing manis, maag dan kelelahan, ini telah dilakukan oleh klinik herbal senter yang ada di Jogyakarta, di mana pasiennya yang berobat sem-buh dari diabetes karena meng-konsumsi teh herbal sirih merah. Sirih merah juga sebagai obat luar dapat memperhalus kulit.

Secara empiris diketahui tanaman sirih merah dapat menyembuhkan penyakit batu ginjal, kolesterol, asam urat, serangan jantung, stroke, radang prostat, radang mata, masuk angin dan nyeri sendi.

Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik, pada dosis tersebut mampu me-nurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34,3%. Lebih tinggi penu-runannya dibandingkan dengan pem-berian obat anti diabetes militus komersial Daonil 3,22 mml/kg yang hanya menurunkan 27% glukosa darah tikus. Hasil uji praklinis pada tikus, dapat di pakai sebagai acuan penggunaan pada orang yang men-derita kencing manis. Saat ini sudah cukup banyak klinik herbal center yang menggunakan sirih merah sebagai ramuan atau terapi yang berkhasiat dan manjur untuk pe-nyembuhan berbagai jenis penyakit

Penutup
Tanaman sirih merah mempunyai banyak manfaat dalam pengobatan tradisional, mempunyai potensi me-nyembukan berbagai jenis penyakit. Banyak pengalaman bahwa meng-gunakan sirih merah dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul dapat menyembuhkan penya-kit diabetes militus, hepatitis, batu ginjal, menurunkan kolesterol, men-cegah stroke, asam urat, hipertensi, radang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit. Tanaman sirih merah dapat dapat beradaptasi dengan baik di setiap jenis tanah sehingga mudah dikembangkan dalam skala besar (Sumber: Feri Manoi, Warta Puslitbangbun Vol.13 No. 2, Agustus 2007).
From : Balittro

Tanaman Obat Sirih

Posted by Esha Flora | 11/23/2008 | , | 2 comments »

Klasifikasi ilmiah
Regnum: Plantae
Divisio: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Piperales
Familia: Piperaceae
Genus: Piper
Spesies: P. betle

Nama binomial
Piper betle
L.


Tanaman obat Sirih adalah nama sejenis tumbuhan merambat, daun dan buahnya dimakan orang dikunyah bersama gambir, pinang dan kapur. Sirih digunakan sebagai tanaman obat (fitofarmaka); sangat berperan dalam kehidupan dan berbagai upacara adat rumpun Melayu.

Tanaman obat merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat kehijauan,berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Panjangnya sekitar 5 - 8 cm dan lebar 2 - 5 cm. Bunganya majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung ± 1 mm berbentuk bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 - 3 cm dan terdapat dua benang sari yang pendek sedang pada bulir betina panjangnya sekitar 1,5 - 6 cm dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna putih dan hijau kekuningan. Buahnya buah buni berbentuk bulat berwarna hijau keabu-abuan. Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan.

Kandungan dan manfaat
Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan chavicol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur. Sirih berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri dan cendawan. Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan. Selain itu juga bersifat mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan perdarahan.

Kegunaan
Batuk
Sariawan
Bronchitis
Jerawat
Keputihan
Sakit gigi karena berlubang (daunnya)
Demam berdarah
Bau mulut
Haid tidak teratur
Asma
Radang tenggorokan (daun dan minyaknya)
Gusi bengkak (getahnya)

Pemakaian Luar
Eksim
Luka bakar
Koreng (pyodermi)
Kurap kaki
Bisul
Mimisan
Sakit mata
Perdarahan gusi
Mengurangi produksi ASI
Menghilangkan gatal

Keterangan
Biasanya untuk obat hidung berdarah, dipakai 2 lembar daun segar Piper betle, dicuci, digulung kemudian dimasukkan ke dalam Iubang hidung.

Peringatan
Mengunyah sirih telah dikaitkan dengan penyakit kanker mulut dan tenggorokan squamous cell carcinoma.

Sumber Wikipedia


Tanaman obat Sirih (Piper betle) termasuk jenis tumbuhan merambat dan bersandar pada batang pohon lain. Tanaman ini panjangnya mampu mencapai puluhan meter. Bentuk daunnya pipih menyerupai jantung dan tangkainya agak panjang. Permukaan daun berwarna hijau dan licin, sedangkan batang pohonnya berwarna hijau tembelek (hijau agak kecoklatan) dan permukaan kulitnya kasar serta berkerut-kerut. Daun sirih disamping untuk keperluan ramuan obat-obatan juga masih sering digunakan oleh ibu-ibu generasi tua untuk kelengkapan 'nginang' (Jawa). Biasanya kelengkapan untuk 'nginang' tersebut adalah daun sirih, kapur sirih, pinang, gambir, dan kapulaga.

Nama Lokal :
Betel (Perancis), Betel, Betelhe, Vitele (Portugal); Sirih (Indonesia), Suruh, Sedah (Jawa), Seureuh (Sunda); Ju jiang (China).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Sakit mata, Eksim, bau mulut, kulit gatal, Menghilangkan jerawat; Pendarahan gusi, Mimisan, Bronkhitis, Batuk, Sariawan, Luka; Keputihan, Sakit jantung, Sifilis, Alergi/biduren, Diare, Sakit gigi;

Pemanfaatan :
1. Mengurangi produk ASI yang berlebihan
Bahan: 4 lembar daun sirih dan minyak kelapa secukupnya.
Cara membuat: daun sirih diolesi dengan minyak kelapa, Kemudian
dipanggang dengan api.
Cara menggunakan: dalam keadaan masih hangat ditempelkan di
seputar buah dada.

2. Keputihan
Bahan: 7 - 10 lembar daun sirih.
Cara membuat: direbus dengan 2,5 liter air sampai mendidih.
Cara menggunakan: air rebusan daun sirih tersebut dalam keadaan
masih hangat dipakai untuk membasuh/membersihkan seputar
kemaluan secara berulang-ulang.

3. Sakit Jantung
Bahan: 3 lembar daun sirih, 7 pasang biji kemukus, 3 siung bawang
merah, 1 sendok jintan putih.
Cara membuat: semua bahan tersebut ditumbuk sampai halus,
ditambah 5 sendok air panas, dibiarkan beberapa menit, kemudian
diperas dan disaring.
Cara menggunakan: diminum 2 kali 1 hari dan dilakukan secara
teratur.

4. Sifilis
Bahan : 25 - 30 lembar daun sirih bersama tangkainya; 0,25 kg gula
aren dan garam dapur secukupnya.
Cara membuat: semua bahan tersebut direbus bersama dengan 2 liter
air sampai mendidih, kemudian disaring.
Cara menggunakan: diminum 3 kali 1 hari secara terus menerus.

5. Alergi/biduren
Bahan : 6 lembar daun sirih, 1 potong jahe kuning, 1,5 sendok
minyak kayu putih.
Cara membuat: semua bahan tersebut ditumbuk bersama-sama
sampai halus.
Cara menggunakan : Dioleskan/digosokkan pada bagian badan
yang gatal-gatal.

6. Diare
Bahan: 4 - 6 lembar daun sirih, 6 biji lada, 1 sendok makan minyak
kelapa.
Cara membuat: semua bahan tersebut ditumbuk bersama-sama
sampai halus.
Cara menggunakan: digosokkan pada bagian perut.

7. Menghentikan pendarahan gusi
Bahan: 4 lembar daun sirih.
Cara membuat: direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih
Cara menggunakan : setelah dingin dipakai untuk kumur, diulang
secara teratur sampai sembuh.

8. Menghentikan pendarahan hidung (mimisen = Jawa)
Bahan: 1 lembar daun sirih.
Cara membuat: daun sirih digulung sambil ditekan-tekan sedikit
supaya keluar minyaknya.
Cara menggunakan: dipakai untuk menyumbat hidung yang
berdarah/mimisen.

9. Sakit gigi berlubang
a. Bahan: 1 lembar daun sirih.
Cara membuat: direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih
Cara menggunakan: setelah dingin dipakai untuk kumur,
diulang secara teratur sampai sembuh.

b. Bahan: 2 lembar daun sirih diremas, Garam 0,5 sendok
Cara membuat: diseduh dengan air panas 1 gelas, aduk sampai
garam larut, biarkan sampai dingin
Cara pemakaian: dipakai untuk berkumur-kumur.

10. Bronkhitis
Bahan: 7 lembar daun sirih dan 1 potong gula batu.
Cara membuat: daun sirih dirajang, kemudian direbus bersama gula
batu dengan air 2 gelas sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas,
dan disaring
Cara menggunakan: diminum 3 kali sehari 3 sendok makan

11. Batuk
a. Bahan: 4 lembar daun sirih.
Cara membuat: direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih
Cara menggunakan: setelah dingin dipakai untuk kumur, diulang
secara teratur sampai sembuh.
b. Bahan: 4 lembar daun sirih.
Cara membuat: direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih
Cara menggunakan: setelah dingin dipakai untuk kumur, diulang
secara teratur sampai sembuh.

c. Bahan: 4 lembar daun sirih, 3 lembar daun widoro upas dan
madu secukupnya.
Cara membuat: daun sirih diiris-iris, kemudian direbus bersama
daun widoro dengan 2 gelas air sampai mendidih
Cara menggunakan: setelah dingin dipakai untuk kumur, diulang
secara teratur sampai sembuh.

d. Bahan: 4 lembar daun sirih.
Cara membuat: direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih
Cara menggunakan: se1telah dingin dipakai untuk kumur, diulang
secara teratur sampai sembuh.

12. Sakit Mata
Bahan: 2 - 3 lembar
Sumber : Ipteknet

by dinesh_valke
Rauvolfia -- honours Leonhard Rauwolf, German physician, botanist and travellerserpentina -- from Latin serpentine, related to snakecommonly known as: Indian snakeroot, java devil pepper, ichneumon-plant, insanity herb, rauvolfia root, rauwolfia, serpentine wood, snakeroot, snakewood • Assamese: arachoritita • Bengali: চন্দ্র chandra • Gujarati: સર્પગંધા sarpagandha • Hindi: chandrabhaga, छोटा चांद chota-chand, नाकुली nakuli, सर्पगंधा sarpagandha • Kannada: ಸರ್ಪಗನ್ಧ sarpangandha, ಸರ್ಪಗನ್ಧೀ sarpagandhi, ಶಿವನಾಭಿಬಳ್ಳಿ shivanabhiballi, sutranavi, ಪತಾಳಗನ್ಧೀ patalagandhi • Malayalam: അമല്പൊരി amalpori, chuvannavilpori, സര്പ്പഗന്ധി sarppagandhi, suvapavalporiyam • Marathi: harkaya, harki, नाकुली nakuli • Oriya: patalagarar, sanochado • Sanskrit: चन्द्रिका chandrika, नाकुली nakuli, पातालगरुड patalgaruda, सर्पगंधा sarpagandha • Tamil: chevanamalpodi • Telugu: patalaguni, patalagaruda, sarpagandha • Urdu: چاند چهوٿا chota chand, ناکلي nakuli... concoction of the root is hypnotic, sedative and reduces blood pressure; it is also employed in labours to increase uterine contraction; it is an excellent remedy for snake-bites.


Pule Pandak (Rauwolfia serpentina Benth) termasuk tanaman obat langka. Akar Pule Pandak ini mengandung alkoloid reserpine yang berfungsi sebagai obat anti Hipertensi (tekanan darah tinggi) dan obat penenang. Akarnya mengandung tidak kurang dari 20 macam alkoloid dan total ekstrak dari akarnya berkhasiat sebagai obat hipertensi, aprodisiaka dan gangguan neuropsikiatrik. Akarnya hingga kini sering digunakan dalam pengobatan tradisional dan modern (Rosita, dkk, 1991). Kandungan alkoloid yang utama adalah reserpine (Bisset dan Soerohaldoko, 1958).

Kebutuhan bahan baku obat Pule Pandak untuk industri jamu dan farmasi semakin meningkat sementara laju pemanenan terjadi lebih cepat dari laju kemampuan alam untuk memulihkan populasinya. Nilai manfaat dan ekonomi yang tinggi akan tetapi tingkat kelangkaan yang semakin tinggi pula.

Oleh sebab itulah perlu dilakukan suatu usaha untuk dapat mengurangi tekanan terhadap populasi Pule pandak di alam serta sekaligus memenuhi permintaan bahan baku obat yang berasal dari pule pandak.

Dalam rangka pelestarian pemanfaatan Pule Pandak para peneliti dari Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (Edhi Sandra, Ervizal AM Zuhud, Yulia Fitriani, Fadli Yahya dan Toni Anwar) telah melakukan penelitian pule pandak yang cukup panjang. Penelitian ini merupakan satu rangkaian penelitian yang telah dilakukan sebelumnya selama 4 tahun untuk mengetahui teknik budidaya Pule Pandak dimulai dari studi ekologi, penyebaran dan teknik persemaiannya sampai ke pemanenan, kultur jaringan dan peningkatan kandungan metabolit sekunder..

Dan sampai saat ini telah berhasil dilakukan multiplikasi kultur pule pandak dan kultur akar pule pandak (bagian tumbuhan yang paling banyak mengandung metabolit sekunder).


Rauvolfia serpentina

commonly known as: Indian snakeroot, java devil pepper, ichneumon-plant, insanity herb, rauvolfia root, rauwolfia, serpentine roots (trade name), serpentine wood, snakeroot, snakewood • Assamese: arachoritita • Bengali: চন্দ্র chandra • Burmese: bongmaiza • Chinese: she gen mu, yin du luo fu mu, yin du she gen mu, yin du she mu • French: arbre aux serpents • German: Indische schlangenwurzel, rauwolfie, schlangenholz • Gujarati: સર્પગંધા sarpagandha • Hindi: chandrabhaga, छोटा चांद chota-chand, नाकुली nakuli, सर्पगंधा sarpagandha • Japanese: Indo shaboku • Kannada: ಸರ್ಪಗನ್ಧ sarpangandha, ಸರ್ಪಗನ್ಧೀ sarpagandhi, ಶಿವನಾಭಿಬಳ್ಳಿ shivanabhiballi, sutranavi, ಪತಾಳಗನ್ಧೀ patalagandhi • Malay: akar tikus, pule pandak (Java), pulai pandak (Indonesia) • Malayalam: അമല്പൊരി amalpori, chuvannavilpori, സര്പ്പഗന്ധി sarppagandhi, suvapavalporiyam • Marathi: harkaya, harki, नाकुली nakuli • Oriya: patalagarar, sanochado • Sanskrit: चन्द्रिका chandrika, नाकुली nakuli, पातालगरुड patalgaruda, सर्पगंधा sarpagandha • Tamil: chevanamalpodi • Telugu: patalaguni, patalagaruda, sarpagandha • Urdu: چاند چهوٿا chota chand, ناکلي nakuli


Common names of Rauvolfia serpentina:
Assamese: Arachoritita • Bengali: Chandra • Burmese: Bongmaiza • Chinese: She gen mu, Yin du luo fu mu, Yin du she gen mu, Yin du she mu • English: Indian Snakeroot, Java devil pepper, Insanity herb, Rauvolfia root, Rauwolfia, Serpentine Wood, Snakeroot, Snakewood • French: Arbre aux serpents • German: Indische Schlangenwurzel, Rauwolfie, Schlangenholz • Hindi: Chandrabhaga, Chota-chand, सर्पगंधा Sarpagandha • Japanese: Indo shaboku, Indo shaboku • Kannada: Sarpangandha, Sarpagandhi, Shivanabhiballi, Sutranavi, Patalagandhi • Malay: Akar tikus, Pule pandak (Java), Pulai pandak (Indonesia) • Malayalam: Churannavilpori, Suvapavalporiyam • Marathi: Harkaya, Harki • Oriya: Patalagarur, Sanochado • Sanskrit: Chandrika, Patalgaruda, Sarpagandha • Tamil: Chevanamalpodi • Telugu: Patalaguni, Patalagaruda, Sarpagandha

Herb Plant Snakeroot

Posted by Esha Flora | 11/21/2008 | , | 0 comments »

by dinesh_valke
Common names of Rauvolfia serpentina:Assamese: Arachoritita • Bengali: Chandra • Burmese: Bongmaiza • Chinese: She gen mu, Yin du luo fu mu, Yin du she gen mu, Yin du she mu • English: Indian Snakeroot, Java devil pepper, Insanity herb, Rauvolfia root, Rauwolfia, Serpentine Wood, Snakeroot, Snakewood • French: Arbre aux serpents • German: Indische Schlangenwurzel, Rauwolfie, Schlangenholz • Hindi: Chandrabhaga, Chota-chand, सर्पगंधा Sarpagandha • Japanese: Indo shaboku, Indo shaboku • Kannada: Sarpangandha, Sarpagandhi, Shivanabhiballi, Sutranavi, Patalagandhi • Malay: Akar tikus, Pule pandak (Java), Pulai pandak (Indonesia)Malayalam: Churannavilpori, Suvapavalporiyam • Marathi: Harkaya, Harki • Oriya: Patalagarur, Sanochado • Sanskrit: Chandrika, Patalgaruda, Sarpagandha • Tamil: Chevanamalpodi • Telugu: Patalaguni, Patalagaruda, Sarpagandha

Tanaman obat pule pandak termasuk familia Apocynaceae. Tanaman banyak tumbuh di hutan kecil, kebun, atau pekarangan dengan ketinggian tempat sampai dengan 1.000 meter di atas permukaan laut.
Untuk pengembangbiakannya tanaman pule pandak dapat dengan setek batang atau cangkokan.
Nama lain : pulai pandak atau akar tikus.
Tanaman ini mengandung : 3 grup alkaloid yang terkandung pada akar: Grup 1: alkaline kuat quarterly ammonium compound serpentine, serpentinine, sarpagine, dan samatine. Grup 2: tertiary amine derivate yohimbine, ajmaline, ajmalicine, tetraphylline, dan tetraphyllicine. Grup 3: alkaline lemah secondary amines reserpine, rescinnamine, deserpidine, raunesine, dan canescine.

Kegunaan :
Obat kerongkongan: Akar pule pandak dibersihkan, diiris tipis, lalu dihisap. (2)

Luka atau digigit ular: Petiklah beberapa helai daun pule segar. Lumatkan atau tumbuk, lalu hasil lumatan ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. (2)

Luka atau koreng: Akar kering pule pandak digiling halus, kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit. (2)

Khasihat lain (mengobati tekanan darah tinggi, susah tidur, sakit perut, panas tinggi yang menetap, radang empedu, kejang pada ayam, panas pada malaria dan flu, sakit tenggorokan, bisul, gatal-gatal, gangguan jiwa, dan meningkatkan nafsu makan): Akar pule pandak yang kering direbus. Minum air rebusan akar tersebut.. (2) (mrd)

SUMBER :
Dalimartha, Setiawan. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Ungaran : Trubus Agriwidya, 1999.

Muhlisah, Fauziah. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : Penebar Swadaya, 1999.

Tampubolon, Oswald T. Tumbuhan Obat. Jakarta : Penerbit Bhratara, 1995.

Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : PT. Intisari Mediatama, 1999.

Warintek

(Rauvolfia serpentine [L.] Bentham ex. Ku)

Sinonim :
= Ophioxylon obversum, Mq.
= 0. serpentinwn, Linn.
= O. trifoliatum, Gaertn.
= Hunteria sundana, Mq.

Familia :
Apoeynaceae

Tanaman Obat Pule pandak kadang ditemukan di pekarangan rumah sebagai tanaman hias, namun lebih sering tumbuh liar di ladang, hutan jati, atau tempat lainnya sampai ketinggian 1.000 m dpl. Perdu tegak, tahunan, tinggi mencapai 1 m, bergetah, batang silindris, percabangan warna cokelat abu-abu, mengeluarkan cairan jernih bila dipatahkan. Daun tunggal, bertangkai pendek, duduk berkarang atau berhadapan bersilang, bentuk taji atau bulat telur memanjang, ujung runcing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 3 - 20 ern, lebar 2 - 9 cm, permukaan atas hijau, permukaan bawah warnanya lebih muda. Perbungaan majemuk, bentuk payung yang keluar dari ujung tangkai, mahkota bunga warnanya merah. Buahnya buah batu, bulat telur, masih muda hijau bila masak warnanya hitam, berbiji satu. Akar panjang dan besar. Akar keringnya disebut Rauwolfia Serpentina.

Nama Lokal :
Pulai pandak (Jawa). akar tikus (Sumatera).; Yin tu luo fu mu (China). serpent wood, serpentine (Inggris).; Chandrika chhota chand, sarpaganh (India, Pakistan).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Tekanan darah tinggi (hipertensi), sakit kepala, vertigo, diare,; Sakit tenggorokan, sakit pinggang, sakit perut pada disentri, ; Muntah, Malaria, influenza, radang kandung empedu, bisul,; Hepatitis akut, susah tidur (insomnia), gangguan jiwa (mania), ; Kurang napsu makan, hiperfungsi kelenjar gondok (hipertiroid),; kudis (skabies), biduran (urtikaria), gigitan ular/kalajengking,; Luka terpukul atau terbentur (memar), hernia.;

BAGIAN YANG DIGUNAKAN :
Akar, batang, dan daun. Sebelum digunakan akar dicuci dan dipotong kecil-kecil lalu dijemur untuk penyimpanan.

INDIKASI :
Akar berkhasiat untuk: - tekanan darah tinggi (hipertensi), - sakit kepala dan rasa berputar (vertigo) pada hipertensi, - sakit tenggorok, sakit pinggang, - sakit perut pada disentri, diare, muntah, - panas yang menetap, panas pada malaria, influenza, - radang kandung empedu, hepatitis akut, - kejang pada penyakit ayan (epilepsi), - susah tidur (insomnia), garngguan jiwa (mania), - kurang napsu makan, menghilangkan gejala akibat hiperfungsi kelenjar gondok (hipertiroid) seperti berdebar, tekanan darah tinggi, mudah tersinggung (iritabel), hiperaktif saraf simpatis, bisul, kudis (skabies), biduran (urtikaria), dan - gigitan ular, kalajengking dan luka akibat terpukul atau terbentur (memar).
Batang dan daun berkhasiat untuk: - influenza, sakit tenggorok, malaria, - tekanan darah tinggi, - diare, muntah karena angin, - hernia, dan - bisul, memar.

CARA PEMAKAIAN :
Akar, daun, atau batang sebanyak 25 - 50 g direbus, lalu minum. Untuk pemakaian luar, bahan-bahan tersebut digiling halus lalu ditempeikan ke tempat yang sakit atau direbus, airnya untuk mencuci kulit yang kudis.

CONTOH PEMAKAIAN :
1. Tekanan darah tinggi Akar pule pandak sebanyak 50 g direbus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring. Minumlah pagi dan sore hari, masing-masing 1/2 gelas.
2. Sakit pinggang Akar pule pandak sebanyak 50 g direndam dalam 1 gelas arak selama 1 malam. Keesokan harinya diminum sekaligus, setelah makan.
3. Sakit tenggorok Akar pule pandak secukupnya setelah dicuci bersih lalu diiris tipis- tipis. Bahan tersebut lalu diisap-isap dalam mulut.
4. Sakit kepala, susah tidur, pusing, demam, radang kandung empedu, memar, digigit ular berbisa, kurang nafsu makan, dan sakit perut. Gunakan akar pule pandak sebanyak 10 - 15 g direbus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum 2 kali, pagi dan sore, masing-masing 1/2 gelas.
5. Nyeri perut Akar pule pandak dan pinang secukupnya dikunyah, airnya ditelan dan ampasnya dibuang.
6. Demam, muntah-muntah Akar pule pandak kering sebanyak 15 g dipotong kecil-kecil lalu diremas-remas dalam 1 gelas air masak. Airnya ini diminum sekaligus.
7. Influenza Daun pule pandak segar sebanyak 25 g dicuci lalu direbus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum sekaligus.
8. Digigit ular, memar Daun pule pandak segar dicuci bersih lalu digiling halus. Bubuhkan pada tempat yang sakit, lalu dibalut. Ganti 2 kali sehari.
9. Luka berdarah Daun muda pule pandak segar secukupnya dicuci bersih lalu digiling halus. Bubuhkan pada luka lalu dibalut.
10. Diare Akar pule pandak segar sebanyak 2 g diiris tipis-tipis. Tambahkan 1/4 sendok teh garam, sambil diaduk merata. Akar ini kemudian dikunyah dan airnya ditelan.

EFEK SAMPING :
Jarang terjadi efek samping yang berat. Penekanan sentral menimbulkan gejala sakit kepala, mimpi buruk, rasa lelah, dan tidur tak nyenyak. Pada jantung dan pembuluh darah menimbulkan gejala denyut jantung melambat, hidung tersumbat, dan kadang gagal jantung (jarang terjadi). Pada sistem pencernaan menyebabkan mulut kering, kontraksi lambung dan usus meningkat, sering buang air besar, atau diare.

CATATAN :
- Pule pandak meningkatkan keluarnya asam lambung sehingga dapat menyebabkan perdarahan lambung.
- Penderita dengan penyakit lambung dan kondisi badan lemah jangan minum rebusan pule pandak.
- Sudah dibuat tablet dengan nama dagang tablet Reserpin, tablet Ancom, dan tablet Maishujing.

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS :
Akar bersifat pahit, dingin, dan sedikit beracun. Batang dan daun bersifat pahit, manis, dan sejuk.

KANDUNGAN KIMIA :
Akar mengandung 3 grup alkaloid, yang jenis dan jumlahnya tergantung dari daerah asal tumbuhnya. Grup I termasuk alkaline kuat (quarterary ammonium compound): serpentine, serpentinine, sarpagine, dan samatine. Penyerapannya jelek bila digunakan peroral (minum). Grup II (tertiary amine derivate): yohimbine, ajmaline, ajmalicine, tetraphylline, dan tetraphyllicine. Grup III termasuk alkaline lemah (secondary amities): reserpine, rescinnamine, deserpidine, raunesine, dan canescine. Reserpine berkhasiat hipotensif, ajmaline, serpentine, dan rescinnamine berkhasiat sedatif, yohimbine merangsang pembentukan testosteron yang dapat membangkitkan gairah seks.

Sumber :Ipteknet

Rauwolfia serpentina
Scientific classification
Kingdom: Plantae
Division: Magnoliophyta
Class: Magnoliopsida
Order: Gentianales
Family: Apocynaceae
Genus: Rauwolfia
Species: R. serpentina
Binomial name
Rauwolfia serpentina
(L.) Benth. ex Kurz[1]

Rauwolfia serpentina, or 'snakeroot' is a species of flowering plant in the family Apocynaceae. It is one of the 50 fundamental herbs used in traditional Chinese medicine, where it has the name shégēn mù (蛇根木) or yìndù shémù (印度蛇木).

The extract of the plant has also been used for millennia in India — it was reported that Mahatma Gandhi took it as a tranquilizer during his lifetime.[2]

The wood, commonly known as serpentwood, is mildly popular amongst woodcarving and woodturning hobbyists.[citation needed]

source :From Wikipedia, the free encyclopedia

Aditya Suharmoko, The Jakarta Post , Jakarta

Herbal medicine, known locally known as jamu, has become increasingly popular recently as global consumer trends turn to nature and 'old wisdom' in search of cures.

Indonesia's major herbal consumers and producers are likely to see jamu getting a stronger foothold this year, with growing demands from both domestic and export markets as well as government support, the jamu association says.

"The jamu industry has good potential for development, with an annual growth of around 20 percent," said Charles Saerang, chairman of the Indonesian Herbal and Traditional Medicines Entrepreneurs Association (GP Jamu).

This year, he said, the country's herbal medicines industry could reach total sales of Rp 5 trillion (US$550.96 million), up 20 percent from Rp 4 trillion in 2007.

As for exports, jamu entrepreneurs have aimed to double last year's US$4 million of exports.

Nyonya Meneer and Sido Muncul, the two largest jamu producers in Indonesia, which export to destinations including Malaysia, Singapore, the Philippines, Taiwan, Saudi Arabia, the U.S. and the Netherlands, both plan to diversify their export destinations this year.

Another reason to be positive about jamu sales and exports, Charles said, was the new found government support that recently registered copyright for jamu as an Indonesian trademark.

"The government and industry have agreed that 'Jamu' should be recognized as an Indonesian trademark. As the next step, the government must promote jamu to the world," he said.

China's herbal medicine industry grew significantly after it began to get support from the Chinese government, he added.

As its first steps to promote jamu to the rest of the world, the Indonesian government plans to hold an international symposium on Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) in late May and an international exhibition on jamu next year.

More than 80 percent of the country's total population (220 million) have consumed jamu--a really huge target market, GP Jamu says.

"In Malaysia, almost half the population consume traditional medicine. Imagine if this happened in Indonesia," Charles said.

Sido Muncul president director Irwan Hidayat believed the country's jamu industry could be developed further.

"Some pharmaceutical companies have introduced semi herbal medicine to cure colds (masuk angin) to compete with jamu. This shows the jamu industry has a huge market," he said.

Currently, Indonesia has some 1,243 jamu producers, 129 of which are large-scale producers. The rest are small and medium enterprises (SMEs) operating mostly in East and Central Java.

SMEs contribute around 20 percent of the total annual jamu sales nationally.

The industry could employ at least 3 million workers per year, Charles said.

"This number could increase, considering more and more Indonesians take jamu."

He also said the industry planned to acquire more land in East and Central Java because farmers could grow herbs there more easily.

Jamu producers have become more creative with products and packaging, like selling jamu in syrup form. The rising price of medicine has also helped to sway consumers toward traditional medicine, Charles said.

The future, however, was not all rosy for jamu, as producers were challenged to make products that comply with standards set by the Drugs and Food Monitoring Agency (BPOM), he said.

Currently, only 10 out of 1,243 jamu producers produce "quality" herbal medicine.

Many unauthorized herbal medicines are distributed nationwide and could threaten the growth of the jamu industry, Charles said.

Sales Performance: - 2006 Rp 3 trillion - 2007 Rp 4 trillion - 2008 Rp 5 trillion (forecast)

Export: - 2007 US$4 million - 2008 US$8 million (forecast)

Big Players: - Martha Tilaar - Mustika Ratu - Sido Muncul - Nyonya Meneer - Jamu Jago

Source : Aditya Suharmoko , The Jakarta Post , Jakarta Mon, 03/10/2008 1:20 AM Business



Sinonim :
= lpomoea biloba, Forsk.
= I.brasiliensis, (Linn.), Sweet.
= Convolvulus brasiliensis, Linn.
= C.pes-caprae, Linn.

Familia :
Convolvulaceae

Tanaman obat Tapak Kuda tumbuh liar di daerah pantai atau di tempat-tempat yang tanahnya berbatu-batu dan mengandung pasir. Tumbuhan berbatang basah, licin, merambat atau merayap di tanah, warna batang hijau kecoklatan. Daun tunggal, bulat, tebal, licin mengkilat tidak berambut, berbagi di kedua ujung daun, warna hijau, letak tersebar panjang dan lebar daun + 3 cm, tangkai daun panjang sekitar 2 - 3 cm, bila dipatahkan keluar getah warna putih. Bunga warna ungu, bentuk seperti corong/terompet.

Nama Lokal :
Katang-katang, tang katang, daun katang, alere, leleri, ; dalere, batata pantai, tapak kuda, andah arana, daredei; watata-ruruan, dolodoi, tilalade, mari-mari, wedor, tati raui,; ngemir ngamir, loloro, bulalingo, Ialere, wedule; Ma an teng (China).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Reumatik, Sakit otot/pegal-pegal (myalgia), Wasir, Sakit gigi; Pembengkakan gusi;

KEGUNAAN:
1. Rheumatik/nyeri persendian, myalgia (sakit otot/pegal-pegal).
2. Perdarahan pada wasir (haemorrhoid), pembengkakan gusi, sakit gigi.

PEMAKAIAN: 30 - 60 gr daun segar atau 15 - 30 gr kering, rebus.

PEMAKAIAN LUAR:
Lumatkan daun segar untuk pemakaian di tempat yang sakit, atau daun segar direbus untuk cuci, atau perasan airnya dari daun segar untuk dioleskan ke tempat yang sakit atau akar dikeringkan, giling menjadi bubuk/serbuk, tempelkan ke tempat yang sakit. Dipakai untuk bisul, koreng, eczema.

CARA PEMAKAIAN:
1. Rheumatik:
Herba segar 45 gr ditambah arak ketan dan air sama banyak, rebus,
minum.

2. Bisul dan koreng: 30 - 60 gr herba segar ditambah gula merah, rebus.
3. Wasir berdarah: 30 gr herba segar ditambah 360 gr usus, tim, makan.
4. Sakit gigi: 45 gr akar kering, direbus, minum.
5. Eczema: Akar segar 30 gr, rebus, minum.

PERHATIAN : Wanita hamil dilarang memakai tanaman obat ini.
sumber : Iptek.net

Ipomoea pes-caprae

Posted by Esha Flora | 11/16/2008 | | 0 comments »


Scientific classification
Kingdom: Plantae
Division: Magnoliophyta
Class: Magnoliopsida
Order: Solanales
Family: Convolvulaceae
Genus: Ipomoea
Species: I. pes-caprae
Binomial name
Ipomoea pes-caprae
(L.) R.Br., 1818

Ipomoea pes-caprae, the beach morning glory or Goat's foot, is a common tropical creeping vine belonging to the family of Convolvulaceae. It grows on the upper parts of beaches and endures salted air. It is one of the most common and most widely distributed salt tolerant plants and provides one of the best known examples of oceanic dispersal. Its seeds float and are unaffected by salt water.

This species can be found on the sandy shores of the tropical Atlantic, Pacific and Indian Oceans. Goat's foot is common on the sand dunes of Australia's upper north coast of New South Wales and can also be found along the entire Queensland coastline.

Keanu's foot is a primary sand stabilizer being one of the first plants to colonise the dune. It grows on almost all parts of the dune but is usually found on the seaward slopes sending long runners down towards the toe of the dune. The sprawling runners spread out from the woody rootstock but the large 2-lobed leaves are sparse and a dense cover on the sand is rarely achieved except in protected situations. This plant grows in association with sand spinifex grass and is a useful sand binder thriving under conditions of sand blast and salt spray.

It is know as salsa-da-praia in Brazilian folk medicine, and is used to treat inflammation and gastrointestinal disorder.

Community species
Ipomoea pes-caprae has been observed in community situations, studied for their endurance of difficult growing conditions (on dunes) with some other tough species.
Hydrocotyle bonariensis
Senecio crassiflorus
Juncus acutus[1]

From Wikipedia, the free encyclopedia
Image : Author B.navez

Copyright (C) 2000,2001,2002 Free Software Foundation, Inc.
51 Franklin St, Fifth Floor, Boston, MA 02110-1301 USA
Everyone is permitted to copy and distribute verbatim copies
of this license document, but changing it is not allowed

ABSTRAK
Uji Efek Pelancar ASI Ekstrak Daun Tapak Liman (Elephantopus scaber L.) Pada Tikus Putih
Tjitra Wardani(1), Paulus Liben(1), Erna Setyawati(2), NC Sugiarso(2)


Telah dilakukan penelitian tentang uji efek pelancar ASI ekstrak daun tapak liman (Elephantopus scaber L.) pada tikus
putih (Rattus norvegicus) betina galur Wistar dengan metode penimbangan bayi tikus yang menyusu (weighing method).
Pada metode ini dibagi dalam lima kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor induk tikus (masing-masing
dengan 5 ekor bayi tikus. Dosis ekstrak daun tapak liman yang digunakan 1,0g/kg BB, dan 2,0 g/kg BB yang diberikan
secara oral. Sebagai kontrol diberikan suspensi PGA 3% dan metoklopramid HCl 2,7 mg/kg BB sebagai pembanding,
volume pemberiannya adalah 1 ml/100 g BB. Peningkatan berat badan didasarkan pada ASI yang dihisap oleh anak
tikus yang baru lahir dan penimbangan dilakukan pada hari ke-5, 7, 9, 11, 13, 15 masa menyusui. Perbedaan berat
badan anak tikus sebelum dan sesudah menyusu menggambarkan jumlah produksi ASI induk tikus. Data yang diperoleh
dianalisis secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun tapak liman dapat meningkatkan produksi ASI serta
ada korelasi antara peningkatan dosis ekstrak daun tapak liman dengan peningkatan produksi ASI.
Kata-kata kunci :
Elephantopus scaber L., weighing method, pelancar ASI

1 Bagian Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga2 Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala

Sinonim :
= Asterocephalus cochinchinensis, Spreng.
= Scabiosa cochinchinensis, Lour.
Familia :
Compositae (Asteraceae)
Tumbuh liar di lapangan rumput, pematang, kadang-kadang ditemukan dalam jumlah banyak, terdapat di dataran rendah sampai dengan 1.200 m di atas permukaan laut. Terna tahunan, tegak, berambut, dengan akar yang besar, tinggi 10 cm - 80 cm, batang kaku berambut panjang dan rapat, bercabang dan beralur. Daun tunggal berkumpul di bawah membentuk roset, berbulu, bentuk daun jorong, bundar telur memanjang, tepi melekuk dan bergerigi tumpul. Panjang daun 10 cm - 18 cm, lebar 3 cm - 5 cm. Daun pada percabangan jarang dan kecil, dengan panjang 3 cm - 9 cm, lebar 1 cm - 3 cm. Bunga bentuk bonggol, banyak, warna ungu. Buah berupa buah longkah. Masih satu marga tetapi dari jenis lain, yaitu Elephantopus tomentosa L., mempunyai bunga wama putih, bentuk daun bulat telur agak licin, mempunyai efek therapy yang sama, tapi khasiat penurun panas dan anti radang kurang poten. Lebih sering digunakan pada rheumatic dan anti kanker.

Nama Lokal :
Tapak liman (Indonesia), Tutup bumi (Sumatera); Balagaduk, jukut cancang, tapak liman (Sunda),; Tampak liman, tapak tangan, talpak tana (Madura),; Ku di dan (China).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Influenza, demam, Amandel, Radang tenggorokan, Radang mata; Dysentery, diare, gigitan ular, Batuk, Sakit kuning, Busung air; Radang ginjal, Bisul, Kurang darah, radang rahim, Keputihan;

BAGIAN YANG DIPAKAI:
Seluruh tanaman, cuci, keringkan.

KEGUNAAN:
1. Influenza, demam, peradangan amandel, radang tenggorok, radang
mata.
2. Dysentery, diare, gigitan ular.
3. Epidemic encephalitis B., batuk seratus hari (Pertusis).
4. Sakit kuning, memperbaiki fungsi hati, busung air (ascites).
5. Radang ginjal yang akut dan kronik.
6. Bisul, eksema.
7. Kurang darah (anemia), radang rahim, keputihan.
8. Mempermudah proses kelahiran, pengobatan sesudah bersalin.
9. Pelembut kaki, peluruh dahak, peluruh haid, pembersih darah,
pengelat.

PEMAKAIAN: 15-30 gram rebus.

CARA PEMAKAIAN TANAMAN OBAT:
1. Hepatitis:

120-180 gram akar segar + daging, rebus, minum, selama 4-5 hari

2. Biri-biri :
30-60 gram seluruh tanaman, 60-120 gram tahu, air secukupnya
ditim, makan.

3. Perut kembung: 60 gram batang direbus, dibagi 2 kali minum.

Komposisi :
Tanaman obat Tapak Liman memiliki SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS, Rasa pahit, pedas, sejuk. Penurun panas, Antibiotik, anti radang, peluruh air seni, menghilangkan pembengkakan, menetralkan racun. KANDUNGAN KIMIA: Daun: Epifriedelinol, lupeol, stiqmasterol, triacontan-1-ol, dotria-contan-1-ol, lupeol acetate, deoxyelephantopin, isodeoxyelephantopin, Bunga: Luteolin-7-glucoside.

Tanaman Obat Indonesia untuk pengobatan

Posted by Esha Flora | 11/16/2008 | | 2 comments »



Definisi Tanaman Obat
Tanaman obat adalah tanaman yang memiliki khasiat obat dan digunakan sebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Pengertian berkhasiat obat adalah mengandung zat aktif yang berfungsi mengobati penyakit tertentu atau jika tidak mengandung zat aktif tertentu tapi mengandung efek resultan / sinergi dari berbagai zat yang berfungsi mengobati.

Dalam penggunaan tanaman obat sebagai obat bisa dengan cara diminum, ditempel, untuk mencuci/mandi, dihirup sehingga penggunaannya dapat memenuhi konsep kerja reseptor sel dalam menerima senyawa kimia atau rangsangan.

Sejarah Tanaman Obat
Tanaman Obat sebagai sebagai obat asli Indonesia, sudah ada sejak zaman nenek moyang kita (Nusantara) yaitu digunakan dalam upaya memelihara kesehatan dan mengobati penyakit, kemudian pengetahuan ini diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Pengetahuan tentang tanaman obat dari luar seperti india, China terdapat kemiripan dikarenakan letak geografis Nusantara di antara dua pusat kebudayan yaitu China dan India. Hubungan dagang dan penyebaran agama menjadi media penyaluran pengetahuan tentang tanaman obat. Sejak zaman kerajaan di Nusantara dari mulai Kutai Kartanegara, Sriwijaya, Majapahit sampai pada Kesultanan Mataram dan zaman VOC obat yang digunakan nenek moyang bangsa kita adalah tanaman obat.

Pelajaran tentang obat modern di Indonesia berawal ketika didirikan Sekolah Dokter Djawa (STOVIA) tahun 1904 di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter dilingkungan mereka, pada zaman itu dimulai pelajaran tentang obat-obatan moderen dengan pendekatan kimiawi, sehingga pada saat itu pengobatan tradisionil mulai sedikit terlupakan.

Para pemakai dan pencinta tanaman obat asli Indonesia
Sejak Dahulu masih banyak orang yang tertarik dan memakai tanaman obat sebagai pengobatan tradisionil dibuktikan dari masih adanya tulisan peninggalan nenek moyang seperti manuskrip 'Serat Centini' di Jawa dan 'Lontar Usada' di Bali dan dapat dijumpai di Keraton-keraton maupun di Pura lama. Dan juga banyak Penulis dengan tulisan mengenai tanaman obat Indonesia antara lain:



Mrs. J.M.C. Kloppenburg-Versteegh (1862-1948), Tahun 1907 menulis Indische planten en haar geneeskracht (Indigenous plants and their healing powers), tahun 1983 di terbitkan dalam Bahasa Indonesia; Petunjuk Lengkap Mengenai Tanam-Tanaman di Indonesia. Dan khasiatnya sebagai obat-obatan tradisionil, Jilid II Bagian medis, kemudian tahun 1998; Petunjuk Lengkap Mengenai Tanam-Tanaman di Indonesia. Dan khasiatnya mya sebagai obat-obatan tradisionil. Jilid I Bagian Botani;


Mrs. J.M.C. Kloppenburg-Versteegh


De Nuttige Planten Van Nederlandsch - Indie Tevens Synthetische Catalogus Der Verzamelingen Van Het Museum Voor Economische Botanie Te Buitenzorg Door K. Heyne Chef Van Het Museum Gedrukt Bu Ruygrok & Co. Batavia 1916 Tumbuh-tumbuhan / tanaman berguna di Hindia Belanda sekaligus katalog dari Pengumpulan di Musium Tanaman Ekonomis di Bogor tahun 1916 ;

Tentang obat asli Indonesia, by A. Seno Sastroamidjojo, Published in 1948, Penerbit Kebangsaan Pustaka Rakjat (Djakarta). menulis tentang kumpulan jenis tanaman obat dan cara penggunaannya secara tradisionil.

Tjabe pujang, warisan nenek mojang. 1965, di tuls oleh Harsono R.M dan Sudarman Mardisiswoyo, tahun 1965, dan revisi nya; Cabe puyang, warisan nenek moyang oleh Sudarman Mardisiswojo, Harsono Rajakmangunsudarso diterbitkan oleh Balai Pustaka, 1985 ;


Buku-buku tersebut menjadi sumber informasi dan juga ikut andil dalam usaha-usaha kegiatan pelestarian pengobatan herbal oleh beberapa dokter dan pengobat tradisionil, antara lain pada; Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan obat Bogor, Kebun Tanaman Obat Karyasari serta Eshaflora juga sedang melakukan penelitian dan budidaya tanaman obat pule pandak dengan kultur jaringan tanaman

Besarnya potensi pasar obat & suplemen herbal di Indonesia ini, didukung sumber daya alam yang berlimpah. Keanekaragaman hayati di bumi pertiwi ini, menduduki peringkat dua dunia. Tidak kurang 30.000 spesies tumbuhan yang ada di Indonesia, dan 940 diantaranya diketahui berkhasiat sebagai obat. Dapatkah potensi besar ini, menggiring obat & suplemen herbal asli Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri?

Potensi tanaman obat di Indonesia memang berlimpah. Sebut saja, misalnya, Provinsi Jawa Barat. Selama ini, ada 13 komoditas tanaman obat yang menjadi unggulan di Jabar, yaitu antara lain: jahe, laos, kencur, kunyit, lempuyang, temulawak, dan kapulaga. Pada 2007, produksi tanaman obat di Jabar mencapai 161.484 ton.

Histori tanaman herbal untuk obat, telah berlangsung ribuan tahun lalu. Bangsa Mesir kuno, misalnya, pada 2500 SM, telah menggunakan tanaman untuk obat-obatan. Cukup banyak resep tanaman obat, dan diagnosanya tercatat dalam Papyrus Ehers.

Hal yang sama dialami bangsa Yunani kuno, yang banyak menyimpan catatan penggunaan tanaman obat. Mereka itu, antara lain: Hyppocrates (466 SM), Theophrastus (372 SM) dan Pedanios Dioscorides (100 SM). Keterangan rinci mengenai ribuan tanaman obat, tercatat di buku De Materia Medica.

Bagaimana di Indonesia? Tanaman obat, juga sudah digunakan sejak ratusan tahun lalu. Hanya saja, belum terdokumentasi secara baik pemanfaatannya. Pada pertengahan abad ke XVII, botanis, Jacobus Rontius (1592-1631), mengumumkan khasiat tumbuh-tumbuhan dalam bukunya De Indiae Untriusquere Naturali et Medica.

Meskipun hanya 60 jenis tumbuh-tumbuhan yang diteliti, tetapi buku ini merupakan dasar dari penelitian tumbuh-tumbuhan obat oleh N.A. van Rheede tot Draakestein (1637-1691), dalam bukunya Hortus Indicus Malabaricus.

Pada 1888, di Bogor didirikan Chemis Pharmacologisch Laboratorium, bagian dari Kebun Raya Bogor, yang bertujuan menyelidiki bahan-bahan atau zat-zat yang terkandung dalam tumbuhan yang dapat digunakan untuk obat-obatan. Setelah itu, penelitian dan publikasi mengenai khasiat tanaman obat-obatan semakin berkembang.

Adanya sumber daya tanaman obat yang berlimpah, tentunya menjadi keunggulan komparatif bagi Indonesia. Persoalannya sekarang adalah, bagaimana keunggulan ini secara ekonomis dapat dimanfaatkan untuk menyehatkan bangsa.

Keunggulan Komparatif. Keunggulan komparatif melalui pengembangan obat asli Indonesia (Indonesian indigenous herbal medicines) harus dikelola, agar memenuhi tiga kriteria dasar Yaitu: layak pakai iptek (scientific and technologically viable), layak ekonomis (economically feasible) dan diterima oleh masyarakat luas termasuk masyarakat profesi kesehatan (socially acceptable).

Peluang itu demikian besar. Sebut saja Amerika Serikat, tingkat pertumbuhan pasar obat alami pada tahun 1993-1998, rata-rata sebesar 12%. Di Uni Eropa 8%, di wilayah Eropa lainnya sebesar 12%, di Jepang sebesar 15%, dan di Asia Tenggara sebesar 12%. Total nilai penjualan total bahan alami di seluruh dunia mencapai lebih dari USD 17 miliar pada 1998.

Herbal Resmi Digunakan di Rumah Sakit

Sudah banyak, obat herbal yang diproduksi perusahaan farmasi, seperti obat batu ginjal, penambah stamina dan meningkatkan daya tahan tubuh. Karena diproduksi oleh produsen farmasi, maka kandungan dari bahan herbal tersebut telah terstandarisasi, bahkan beberapa produk sudah memiliki sertifikat fitofarmaka. Hal ini, masih belum banyak yang diketahui oleh masyarakat.

Ada tiga kategori sediaan obat alami yang diterapkan pemerintah yaitu jamu, herbal terstandar (telah melalui dan lolos uji pre-klinik), dan fitofarmaka (telah melalui dan lolos uji klinik). Demikian antara lain dikemukakan Kepala Poli Obat Tradisional Indonesia RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Dr. Arijanto Jonosewoyo, Sp.PD, saat diwawancarai Indriana Widyastuti dari Kabar Sehat, di ruang kerjanya.

Menurut Dr. Arijanto, saat ini beberapa tanaman bisa digunakan untuk beberapa penyakit. Misalnya, Temulawak.

Tanaman ini peluangnya besar sekali. Tidak saja digunakan untuk meningkatkan nafsu makan, tetapi juga dapat digunakan untuk dismenorrhea (nyeri saat haid), serta bermanfaat bagi penderita hepatitis untuk memperbaiki fungsi hatinya.

“Kita tidak boleh menganggap remeh bahan-bahan herbal Indonesia,” lanjut Arijanto yang juga Ketua IPTAKI (Ikatan Pengobat Tradisional Alternatif Komplementer Indonesia) ini, seraya menambahkan, agar pemerintah dan perusahaan farmasi memproduksi obat herbal yang berasal dari tanaman obat asli Indonesia.

Saat ini, banyak obat herbal dari Cina masuk, juga dari India, karena globalisasi. “Padahal, kita juga punya obat herbal dengan kualitas yang tidak kalah baik. Sekarang ini, banyak obat-obatan Cina yang bahan bakunya justru dibeli dari Indonesia.”

Perhatian dunia terhadap suplemen atau obat herbal memang kian meningkat. Beberapa herbal Indonesia telah diekspor ke luar negeri, dan dimanfaatkan untuk penelitian, dikembangkan, diproduksi, kemudian dipasarkan.

Bahkan, di Cina karena didukung dengan pengawasan yang baik, banyak obat herbal yang telah digunakan di rumah sakit sebagai bagian dari proses pengobatan formal. Di Indonesia, model seperti ini, juga sudah diterapkan, yaitu di Poli Klinik Obat Tradisional Indonesia (OTI), RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Sebagaimana dituturkan oleh Dr. Arijanto, pasien-pasien yang ditangani di Poli OTI, RS Dr. Soetomo, antara lain penderita penyakit hepatitis, asma, asam urat, hipertensi, rheumatik, diberikan obat-obat herbal asli Indonesia. Ini kabar yang menggembirakan, dimana obat herbal telah masuk dalam prosedur pengobatan formal di rumah sakit.

Hal lain yang juga menjadi nilai tambah dari produk obat dan suplemen dari herbal adalah minimnya efek samping. Semoga obat dan suplemen herbal Indonesia, tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tidak tergerus oleh produk impor yang kini memang terus merangsek masuk ke pasar Indonesia.

(Sumber: Karyanto. KABAR SEHAT, Edisi 002, Juli – September 2008

Tapak Dara (Catharanthus roseus )

Posted by Esha Flora | 11/15/2008 | | 0 comments »

Tapak dara merupakan sebuah spesies pokok yang juga terdapat di Madagascar. Pokok ini juga dikenali dengan nama lain seperti pokok Kemunting Cina, pokok Rumput Jalang, pokok Kembang Sari Cina, atau pokok Ros Pantai. Nama saintifiknya Catharanthus roseus.

Pokok bunga Tapak Dara tergolong dalam tumbuhan renek yang sering ditanam sebagai pokok hiasan. Pokok bunga Tapak Dara mempunyai ketinggian 60 cm dengan daun berwarna hijau tua berukuran 2-4 cm yang berbulu di sisinya. Daunnya juga tersusun secara bertentangan.

Pokok bunga Tapak Dara mempunyai bunga yang terdiri dari 5 kelopak dan bewarna dari putih, biru, merah jambu dan juga ungu.

Bahan dari pokok ini digunakan untuk merawat leukemia dan penyakit Hodgkin. Pokok ini mengalami bahaya kepupusan akibat ditebang secara agresif.

Pokok bunga Tapak Dara adalah pokok yang di anggap beracun dengan bahan aktif seperti Vincristine, vinblastine, reserpine, ajmalicine dan serpentine. Kandungan lain Pokok bunga Tapak Dara adalah Catharanthine, leurosine, norharman, lochnerine, tetrahydroalstonine, vindoline, vindolinine, akuammine, vincamine, vinleurosin dan vinrosidin.

Kesan keracunan Pokok bunga Tapak Dara menunjukkan tanda-tanda seperti demam, loya dan muntah-muntah dalam tempoh 24 jam. Tanda-tanda yang lain adalah neuropati, kehilangan refleks tendon, berhalusinasi, koma, sawan dan kematian.

Bunga tapak dara adalah salah satu bunga yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Bunga mungil ini memang sangat mudah ditanam dan bisa ditemukan di berbagai tempat dengan iklim yang berbeda-beda.

Di Indonesia tapak dara dikenal dengan bermacam-macam nama, seperti di Sulawesi disebut sindapor, Sunda disebut kembang tembaga, Jawa kembang tapak daro. Di berbagai negara di dunia menyebut tapak dara ini seperti Malaysia dikenal dengan kemunting Cina/ runput jala, Piliphina dikenal dengan tsitsirika, Vietnam dikenal dengan hoa hai dang, Cina dikenal dengan chang chun hua,Inggris dikenal dengan rose periwinkle, Belanda dikenal dengan soldaten bloem.

Klasifikasi bunga tapak dara ini adalah:

Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil
Sub-kelas : Asteridae
Ordo : Gentianales
Familia : Apocynaceae
Genus : Catharanthus
Spesies : Catharanthus roseus (L.) G. Don

Tapak dara berasal dari benua Amerika Tengah, tetapi sekarang sudah menyebar ke segala penjuru. Bisa tumbuh baik mulai daratan rendah sampai ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Pada dasarnya, ia menyukai tempat-tempat yang terbuka, tapi tak menutup kemungkinan bisa tumbuh di tempat yang agak terlindung pula.

Tapak dara ini dapat dapat dikenal dengan Bunganya muncul dari ketiak daun. Warna bunga ada yang putih, ada pula yang merah muda. Kelopak bunga kecil, berbentuk paku. Mahkota bunga berbentuk terompet, dan ujungnya melebar. Tepi bunga datar, terdiri dari taju bunga berbentuk bulat telur, dan ujungnya runcing menutup ke kiri. Tapak dara memiliki rumah biji yang berbentuk silindris menggantung pada batang. Buahnya berbentuk silindris, ujung lancip, berbulu, panjang sekitar 1,5 - 2,5 cm, dan memiliki banyak biji.

Kemudian batangnya berbentuk bulat dengan diameter berukuran kecil, berkayu, beruas, bercabang, dan berambut sangat lebat. Tinggi tanaman bisa mencapai 0,2 - 1 meter, dan mengandung getah. Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau, dan diklasifikasikan berdaun tunggal. Panjang daun sekitar 2 - 6 cm, lebar 1 - 3 cm, dan tangkai daunnya sangatpendek.

Tapak dara biasanya diperbanyak dengan bijinya yang lembut. Caranya, sediakan biji-biji yang tua, lalu semaikan pada suatu tempat persemaian. Masukkan biji ke dalam tanah, lalu tutup dengan lapisan tanah setipis tebal bijinya. Rajinlah menyiram. Bila biji-biji mulai tumbuh, dan tingginya sudah mencapai sekitar 15 - 20 cm, silahkan dipindahkan ke tempat yang diinginkan. Jika ingin ditanam dalam pot, tentu perlu disiapkan pot dan media tanamnya. Pot bisa dari tanah liat, semen, atau kaleng bekas. Media tanamnya berupa campuran tanah subur, kompos, dan pupuk kandang (2 : 1 : 1). Bibit langsung ditanam, dan setelah itu diletakkan di tempat teduh. Seminggu kemudian, ditempatkan di tempat terbuka.

Jika ingin ditanam di kebun pekarangan, perlu dibuat lubang tanah berukuran 15 x 151 x 15 cm, dengan jarak di antara lubang 50 cm. Tiap lubang diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 1,5 kg. Masukkan bibit ke dalam lubang, lalu timbun dengan tanah, dan siram.

Untuk perawatannya, tapak dara tidak menuntut perawatan khusus. Asal disiram dan diberi pupuk, sudah cukup. Pada awal pertumbuhan, gunakan pupuk yang kandungan nitrogennya tinggi, atau pupuk daun yang disemprotkan pada permukaan bawah daun di pagi hari. Kemudian, ketika tanaman mulai berbunga, untuk merangsang pembungaan, dapat digunakan pupuk yang memiliki kandungan fosfor tinggi. Nah, jika rajin merawat, tentulah dijamin tapak dara akan berbunga sepanjang tahun.

Selain indah tampilannya, tapak dara juga menyimpan rahasia pengobatan alternatif. Hasil penelitian para pakar Kanada - Ely Lilly, Svoboda, dan Noble - serta laporan H. Sutarno dan Radjiman menunjukkan bahwa ada empat zat dalam tapak dara yang bisa dimanfaatkan: Vinblasine, ternyata bisa dimanfaatkan dalam pengobatan penyakit leukemia. Vincristine, disamping dipakai dalam pengobatan leukemia, juga kanker payudara, dan tumor ganas lainnya. Vindesine, dipakai dalam pengobatan leukemia pada anak-anak, dan penderita tumor pigmen. Vinorelbine, seringkali digunakan sebagai bahan pengobatan untuk mencegah pembelahan kelenjar. Adapun resepnya sebagai berikut: - Sediakan 22 helai daun tapak dara, kulit kayu pulasari (Alyxia reinwardti), dan buah adas (Foeniculum vulgare). - Cuci bersih, lalu rebus dalam air bersih sebanyak 3 gelas. - Tambahkan gula merah secukupnya, dan biarkan mendidih, hingga nantinya tinggal separuhnya. - Setelah dingin, saring, lalu diminum. Lakukan sehari 3 kali, setiap kali minum sebanyak setengah gelas. Minumlah selama sebulan. [[ms:Pokok Bunga Tapak Dara]

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Tapak_dara"
Hak Cipta (C) 2000,2001,2002 Free Software Foundation, Inc.
51 Franklin St, Fifth Floor, Boston, MA 02110-1301 USA
Semua orang diperbolehkan untuk menyalin dan mendistribusikan
salinan sama persis dari dokumen lisensi ini, namun
tak diperkenankan untuk mengubahnya.



Catharantus roseus (L.) G. Don.)
Sinonim :
Lochnera rosea, Reich. Vinca rosea, Linn. Ammoallis rosea, Small.

Familia :
Apocynaceae

Uraian :
Tapakdara (Catharanthus roseus) banyak dipelihara sebagai tanaman hias. Tapakdara sering dibedakan menurut jenis bunganya, yaitu putih dan merah. Tumbuhan semak tegak yang dapat mencapai ketinggian batang sampai 100 cm ini, sebenarnya merupakan tumbuhan liar yang biasa tumbuh subur di padang atau dipedesaan beriklim tropis. Ciri-ciri tumbuhan Tapakdara : memiliki batang yang berbentuk bulat dengan diameter berukuran kecil, berkayu, beruas dan bercabang serta berambut. Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau dan diklasifikasikan berdaun tunggal. Bunganya yang indah menyerupai terompet dengan permukaan berbulu halus. Tapakdara juga memiliki rumah biji yang berbentuk silindris menggantung pada batang. Penyebaran tumbuhan ini melalui biji.

Nama Lokal :
Perwinkle (Inggris), Chang Chun Hua (Cina); Keminting Cina, Rumput Jalang (Malaysia); Tapak Dara (Indonesia), Kembang Sari Cina (Jawa); Kembang Tembaga Beureum (Sunda);
Penyakit Yang Dapat Diobati :Diabetes, Hipertensi, Leukimia, Asma, Bronkhitis, Demam; Radang Perut, Disentri, Kurang darah, Gondong, Bisul, Borok; Luka Bakar, Luka baru, Bengkak;

Komposisi :
Dari akar, batang, daun hingga bunga Tapak dara mengandung unsur-unsur zat kimiawi yang bermanfaat untuk pengobatan. Antara lain vinkristin, vinrosidin, vinblastin dan vinleurosin merupakan kandungan komposisi zat alkaloid dari tapakdara.

Resep :
1. Diabetes mellitus (sakit gula/kencing manis)
a. Bahan: 10 - 16 lembar daun tapakdara.

Cara membuat: direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih hingga
tinggal 1 gelas
Cara menggunakan: setelah dingin diminum, diulangi sampai
sembuh.
b. Bahan: 35 - 45 gram daun tapakdara kering, adas pulawaras
Cara membuat: bahan tersebut direbus dengan 3 gelas air sampai
mendidih hingga tinggal 1 gelas
Cara menggunakan: setelah dingin diminum, diulangi sampai
sembuh.
c. Bahan: 3 lembar daun tapakdara, 15 kuntum bunga tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 4 gelas air sampai mendidih hingga
tinggal 1,5 gelas
Cara menggunakan: diminum pagi dan sore setelah makan.

2. Hipertensi (tekanan darah tinggi)
a. Bahan: 15 - 20 gram daun tapakdara kering, 10 gram bunga krisan
Cara membuat: direbus dengan 2,5 gelas air sampai mendidih dan
disaring.
Cara menggunakan: diminum tiap sore.
b. Bahan: 7 lembar daun atau bunga tapakdara
Cara membuat: diseduh dengan 1 gelas air dan dibiarkan beberapa
saat dan disaring
Cara menggunakan: diminum menjelang tidur.

3. Leukimia
Bahan: 20-25 gram daun tapakdara kering, adas pulawaras.
Cara membuat: direbus dengan 1 liter air dan disaring.
Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.

4. Asma dan bronkhitis
Bahan: 1 potong bonggol akar tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 5 gelas air.
Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.

5. Demam
Bahan: 1 genggam (12 -20 gram) daun tapakdara, 3 potong batang
dan akar tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 4 gelas air sampai mendidih hingga
tinggal 1,5 gelas.
Cara menggunakan: diminum pagi dan sore ditambah gula kelapa.

6. Radang Perut dan disentri
Bahan: 15 - 30 gram daun tapakdara kering
Cara membuat: direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih.
Cara menggunakan: diminum pagi dan sore dan ditambah dengan
gula kelapa.

7. Kurang darah
Bahan: 4 putik bunga tapakdara putih.
Cara membuat: direndam dengan 1 gelas air, kemudian ditaruh di luar
rumah semalam.
Cara menggunakan: diminum pagi hari dan dilakukan secara teratur.

8. Tangan gemetar
Bahan: 4 - 7 lembar daun tapakdara
Cara membuat: diseduh dengan 1 gelas air panas dan disaring.
Cara menggunakan: diminum biasa.

9. Gondong, bengkak, bisul dan borok
Bahan: 1 genggam daun tapakdara
Cara membuat: ditumbuk halus.
Cara menggunakan: ditempelkan pada luka bakar.

10. Luka bakar
Bahan: beberapa daun tapak dara, 0,5 genggam beras.
Cara membuat: direndam dengan air, kemudian ditumbuk
bersama-sama sampai halus.
Cara menggunakan: ditempelkan pada luka bakar.

11. Luka baru , luka baru
Bahan: 2 - 5 lembar daun tapakdara
Cara membuat: dikunyah sampai lembut.
Cara menggunakan: ditempelkan pada luka baru.

Sumber : Sentra Informasi IPTEK

1.Klasifikasi tanaman
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Asterales (Campanulatae)
Suku : Asteraceae (Compositae)
Marga : Gynura
Jenis : Gynura procumbens (Lour.) Merr.
(Backer and Van den Brink Jr, 1965)

2. Morfologi tanaman
Tanaman G. procumbens berbentuk perdu tegak bila masih muda dan dapat merambat setelah cukup tua. Bila daunnya diremas bau aromatis. Batangnya segi empat beruas-ruas, panjang ruas dari pangkal sampai ke ujung semakin pendek, ruas berwarna hijau dengan bercak ungu. Daun tunggal bentuk elips memanjang atau bulat telur terbalik tersebar, tepi daun bertoreh dan berambut halus. Tangkai daun panjang ½-3 ½ cm, helaian daun panjang 3 ½-12 ½ cm, lebar 1- 5 ½ cm. Helaian daun bagian atas berwarna hijau dan bagian bawah berwarna hijau muda dan mengkilat. Kedua permukaan daun berambut pendek. Tulang daun menyirip dan menonjol pada permukaan daun bagian bawah. Pada tiap pangkal ruas terdapat tunas kecil berwarna hijau kekuningan. Tumbuhan ini mempunyai bunga bongkol, di dalam bongkol terdapat bunga tabung berwarna kuning oranye coklat kemerahan panjang 1-1 ½ cm, berbau tidak enak. Tiap tangkai daun dan helai daunnya mempunyai banyak sel kelenjar minyak (Perry, 1980; Van Steenis, 1975; Backer and Van den Brink, 1965; Sodoadisewoyo, 1953).

3. Nama daerah
Di Indonesia, tanaman ini memiliki beberapa nama daerah seperti; daun dewa (Melayu) (Heyne, 1987; Wijayakusuma et al., 1992), sambung nyawa dan ngokilo (Jawa) (Thomas, 1989).

4. Habitat dan penyebaran
Berasal dari daerah Afrika yang beriklim tropis menyebar ke Srilangka, Sumatera dan Jawa. Tumbuh liar di pekarangan, ladang atau ditanam orang untuk obat-obatan. Tumbuh sampai ketinggian 500 m di atas permukaan laut (Pramono, 1996).

5. Manfaat tanaman
Daun G. procumbens oleh sebagian masyarakat Indonesia digunakan sebagai obat kanker kandungan, payudara dan kanker darah dengan memakan 3 lembar daun segar sehari selama 7 hari. Pengobatan tersebut dapat diperpanjang selama 1-3 bulan tergantung dari keadaan penyakit (Meiyanto, 1996). Tumbuhan ini dilaporkan dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit ginjal (Heyne, 1987). Selain itu, G. procumbens juga dimanfaatkan sebagai antikoagulan, mencairkan pembekuan darah, stimulasi sirkulasi, menghentikan pendarahan, menghilangkan panas, membersihkan racun, khusus bagian daunnya dapat digunakan untuk mengobati pembengkakan payudara, infeksi kerongkongan, tidak datang haid, luka terpukul, melancarkan sirkulasi (Wijayakusuma et al., 1992). Manfaat lain dari bagian daun tanaman ini dilaporkan oleh Dalimartha (1999) dapat untuk mengatasi batu ginjal, radang mata, sakit gigi, rematik sendi, perdarahan kandungan, kencing manis (diabetes mellitus), darah tinggi (hipertensi), ganglion, kista, tumor, memar.

6. Kandungan kimia
Daun tanaman G. procumbens mengandung senyawa flavonoid, sterol tak jenuh, triterpen, polifenol dan minyak atsiri (Pramono and Sudarto, 1985). Hasil penelitian lain melaporkan bahwa tumbuhan ini mengandung senyawa flavonoid, tanin, saponin, steroid, triterpenoid, asam klorogenat, asam kafeat, asam vanilat, asam para kumarat, asam p-hidroksi benzoat (Suganda et al., 1988), asparaginase (Mulyadi, 1989). Sedangkan hasil analisis kualitatif dengan metode kromatografi lapis tipis yang dilakukan Sudarsono et al. (2002) mendeteksi adanya sterol, triterpen, senyawa fenolik, polifenol, dan minyak atsiri. Sugiyanto et al. (2003) juga menyatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa dalam fraksi polar etanol daun tanaman G. procumbens terdapat tiga flavonoid golongan flavon dan flavonol. Penelitian oleh Idrus (2003) menyebutkan bahwa G. procumbens mengandung sterols, glikosida sterol, quercetin, kaempferol-3-O-neohesperidosida, kaempferol-3-glukosida, quercetin-3-O-rhamnosyl(1-6)galaktosida, quercetin-3-O-rhamnosyl(1 -6)glukosida.

7. Penelitian-penelitian mengenai kemoprevensi G. procumbens
Pembuktian secara ilmiah mengenai khasiat tanaman ini melalui penelitian telah banyak dilakukan antara lain Sugiyanto et al. (1993), melaporkan adanya efek penghambatan karsinogenitas benzo(a)piren (BAP) oleh preparat tradisional tanaman G. procumbens, penelitian Meiyanto (1996) menyatakan bahwa ekstrak etanol daun G. procumbens (Lour.) Merr. mampu memberikan efek antimutagenik terhadap tumor paru mencit yang diakibatkan oleh BAP. Sifat antimutagenik ini juga dilaporkan oleh penelitian Sugiyanto et al. (2003), yaitu penghambatan mutasi pada Salmonella typhimurium. Secara in vitro, ekstrak etanol daun G. procumbens memiliki IC50 kurang dari 1000 ug/ml pada larva udang Artemia salina Leach (Meiyanto et al., 1997). Selain menghambat karsinogenitas pada kanker paru, G. procumbens juga diketahui mampu menghambat karsinogenitas kanker payudara. Pemberian post inisiasi ekstrak etanolik daun G. procumbens dosis 250 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB dapat mengurangi insidensi kanker payudara tikus yang diinduksi dengan dimetil benz(a)antrazena (DMBA), menurunkan rata-rata jumlah nodul tiap tikus (Meiyanto et al., 2004) serta secara kualitatif menurunkan ekspresi COX-2 (enzim yang berperan dalam angiogenesis). Penelitian Meiyanto dan Septisetyani (2005) menyatakan bahwa fraksi XIX-XX ESN memiliki efek sitotoksik terhadap sel kanker serviks, HeLa, dengan IC50 119 μg/ml. Fraksi tersebut juga menghambat proliferasi sel HeLa dan dapat menginduksi terjadinya apopotosis. Penelitian lebih jauh oleh Maryati (2006) menunjukkan flavonoid yang diisolasi dari fraksi etil asetat ekstrak etanolik daun G. procumbens memiliki aktivitas sitotoksik dengan IC50 sebesar 98 μg/ml terhadap sel T47D dan secara kualitatif meningkatkan ekspresi p53 dan Bax (regulator apoptosis). Hasil tersebut menguatkan hasil penelitian sebelumnya baik terhadap ekstrak etanolik maupun fraksi-fraksinya yang mengarahkan pada efek kemopreventif G. procumbens, baik sebagai blocking maupun suppressing. Ekstrak etanolik daun G. procumbens juga dilaporkan memiliki efek antiangiogenik (Jenie and Meiyanto, 2006), sehingga tanaman ini berpotensi sebagai antimetastasis, anti-invasi.

Daftar pustaka

Backer, C.A., dan Van Den Brink, R.C.B., 1965, Flora of Java (Spermatophytes Only), Vol II, N.V.P, 363-364, 424-425, Noordhoff-Groningen,The Netherlands.

Meiyanto, E., Sugiyanto, dan Sudarto, B., 1997, Uji Antikarsinogenik dan Antimutagenik Preparat Tradisional Daun Gynura procumbens (Lour.) Merr., Fakultas Farmasi UGM, Prosiding Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia XII, 32.

Perry, L.M., 1980, The Medical Plants of East and Southeast Asia: Attributed Properties and Uses, 94-95, The MIT Press, London.

Sudarsono, Gunawan, D., Wahyuono, S., Donatus, I.A., dan Purnomo, 2002, Tumbuhan Obat II, Hasil Penelitian, Sifat-sifat dan Penggunaan, 96-100, Pusat Studi Obat Tradisional, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Suganda, A., Sudiro, I., dan Ganthina, 1988. Skrining Fitokimia dan Asam Fenolat Daun Dewa (Gynura procumbens (Luor) Merr), Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III, Universitas Indonesia, Jakarta.

Sugiyanto, Sudarto, B., dan Meiyanto, E., 1993, Efek Penghambatan Karsinogenisitas Benzo(a)piren Oleh Preparat Tradisional Tanaman Gynura sp. Dan identifikasi Awal Senyawa yang Berkhasiat, Laporan Penelitian P4M DitJen DikTi, Fak. Farmasi UGM, Yogyakarta.

Sugiyanto, Sudarto, B., Meiyanto, E., Nugroho, A.E., dan Jenie, U.A., 2003, Aktivitas Antikarsinogenik Senyawa yang Berasal dari Tumbuhan, Majalah Farmasi Indonesia, 14 (4), 216-225.

Thomas, A.N.S., 1989, Tanaman Obat Tradisional, 120-121, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Kontributor: R.I. Jenie dan Endang Sulistyorini S.P
sumber : CCRC

Diabetes Melitus
Siapkan tujuh lembar daun sambung nyawa yang masih segar. Cuci dan bilas dengan air matang. Makan daun tadi sebagai lalap mentah bersama dengan nasi. Lakukan dua kali sehari masing-masing tujuh lembar daun.

Darah tinggi
Ambil tujuh lembar daun sambung nyawa. Cuci bersih kemudian dimakan sehari sekali sebagai lalapan. Bisa juga ditumis atau dikukus sebentar sebelum dimakan atau dibuat jus. Lakukan hal ini dengan rutin.

Radang pita tenggorokan dan sinusitis
Siapkan empat lembar daun sambung nyawa buat anak-anak atau tujuh lembar untuk dewasa. Cuci lalu dimakan mentah atau dinikmati dengan dibuat jus. Lakukan sehari sekali.

Tumor
Makan tiga lembar daun sambung nyawa segar sebagai lalapan setiap hari. Jangan lupa dicuci bersih. Lakukan secara teratur setiap kali makan nasi.
Pantangannya: ikan asin, cabai, tauge, tape, sawi putih, kangkung, nanas, durian, lengkeng, nangka es, alkohol, limun dan vetzin.

Lever
Gunakan tiga lembar daun sambung nyawa segar sebagai lalapan bersama nasi setiap hari. Lakukan secara teratur. Jangan lupa dicuci bersih. Hendaknya berpantang makanan berlemak.

Ambeien
Makan tiga lembar daun sambung nyawa segar sebagai lalapan. Lakukan setiap hari dan secara teratur. Jangan lupa dicuci bersih. Lakukan pantangan daging kambung dan makanan pedas.

Kolesterol tinggi
Gunakan tiga lembar daun sambung nyawa segar untuk dibuat jus atau dimakan sebagai lalapan. Lakukan setiap hari secara teratur.


Maag
Cuci bersih tiga lembar daun sambung nyawa mentah segar kemudian dimakan sebagai lalapan setiap hari. Lakukan secara teratur. Pantangan: makanan yang pedas dan asam.


Kena bisa ulat dan semut hitam

Selembar daun segar digosokkan pada bagian tubuh yang gatal hingga daun tersebut mengeluarkan iar dan hancur. Lakukan dua kali selama dua jam sekali.

Ambil 20 lembar daun. Cuci dan digiling halus, beri air garam seperlunya. Ramuan ini berguna untuk mengurap sebanyak gigitan/sengatan, lalu dibalut (1-2 kali sehari sebanyak yang diperlukan).

Eksim
Siapkan bahan berupa tujuh lembar daun sambung nyawa, asam 10 gr, rimpang temulawak 5 jari, gula jawa 20 gr, segenggam sambiloto. Rebus semua bahan dengan dua gelas air hingga mendidih dan tersisa hingga separuhnya. Kemudian saring dan diminum sekaligus. Ulangi setiap hari selama lima hari berturut-turut.

Bisul
Tumbuk beberapa lembar daun sambung nyawa, adas pulosari, dan kapur sirih hingga halus. Kemudian oleskan atau balurkan pada bisul.

Tetanus
Siapkan bahan berupa lima lembar daun sambung nyawa, asam tengguli 3 jari, rimpang kencur 2 jari, rimpang bangle setengah jari, daun sambung 10 lembar, gula enau 3 jari. Semua bahan dipotong-potong dan direbis dengan air sebanyak empat gelas hingga mendidih dan tersisa tiga gelas. Dinginkan dan saring, kemudian minum tiga kali sehari sebanyak satu gelas.

Sumber: CBN

Facebook